Petruk – tokoh wayang purwa Jawa.

Standard

Petruk. ( anak kedua Semar )

.

Panyandrane Petruk versi pakeliran Ki Hadi Sugito.
Ditulis oleh Al Nurbandana di Facebook group Ki Hadi Sugito Dalangku

.

(3)

Petruk pawakane gedhe duwur, ning irunge kedawan, lambene kamban dadi kesane plengah-plengèh kaya ngguyu terus, gulune dawa nganggo kalamenjing nyenol, pundhak punuk, weteng nyempluk, wudel bodong, sikile rada pincang siji (versi Yogya). Merga gulune dawa, Petruk duwe vokal sing penak dirungokke, pinter tetembangan, pinter gendhingan, pinter nirokke paraga werna-werna. Tetembangane sing khas KHS “Yung, biyung, nya putumu mongen, biyung. Gonal, ganèl!”.

.

Ing antarane sedulure, Petruk paling merbawani, ya swarane ya sikape. Jenenge pirang-pirang: Kanthong Bolong, Dobla Jaya, Penthung Pinanggul, Ronggung Jiwan. Ing antarane sedulur-sedulure, Petruk paling kurmat karo bapakne, Semar.

.

.

Foto wayang Petruk koleksi Bp Bima Karangjati, Yogyakarta.
Wayang karya Sanggar Anugrahing Wayang Seno, Karanganyar.

.

.

.

Gareng- tokoh wayang purwa Jawa.

Standard

Gareng ( anak pertama Semar )

.

Panyandrane Gareng versi pakeliran Ki Hadi Sugito.
Ditulis oleh Al Nurbandana di Facebook group Ki Hadi Sugito Dalangku

.

(2)

Garèng pawakane paling mesakake – awak cilik, sikil bejig, tangan thekle, mripat kera, irung mbendhol, lambe njumlik. Ning arepa wandane memelas, Garèng pinter gegendhingan. Mung wae swarane kemèng … dong-dong sok keminter/ mbagusi. Garèng kepingin isa nembang kaya Petruk ning ora isa. Jenenge asring disebut Nala Gareng.

.

.

Foto wayang Gareng koleksi Bp Bima Karangjati, Yogya.
Wayang karya Sanggar Anugrahing Wayang Seno,Karanganyar.

.

.

.

Semar – tokoh wayang purwa Jawa.

Standard

Semar (panakawan ‘kanan’)

.

Panakawane Ki Hadi Sugito

Panyandrane Semar versi pakeliran Ki Hadi Sugito.
Ditulis oleh Al Nurbandana di Facebook group Ki Hadi Sugito Dalangku

.

Panakawan ing Karangkabolotan versi KHS (Ki Hadi Sugito) nggambarake kahanan urip tentrem ing padesan: Bapak (Semar) karo anak-anake (Gareng, Petruk, Bagong) guyub rukun. Model panakawan versi KHS kira-kira kaya kang tinulis ing ngisor iki.

(1)

Semar karo anak-anake ketok akrab senengane geguyon, sembranan, dong-dong nek ngendikan blanyongan/plèsèdan nggo ngregengake swasana. Nek ura-ura kadhang ya diplèsètke ora mung tembunge, ning ya ukarane, ya cengkoke, ya lagune, ya larase … komplit. Nggon bab gending, Semar kadangkala sok serba tahu … ” We lha kepiye ta kowe ki … aku wasis nek mung gending kaya ngono kuwi … jaman cilikanku biyen …”.

Ning, arepa nèk ngendikan sok blanyongan, nèk wis tekan nggon sing serius, Semar ya nuwani, ya merbawani – mumpuni nggon bab sembur & tutur. Semar rumangsa cedhak karo putra-putrane, mula anake ora basa ya ora papa. Merga ora jelas umure, Semar kadhang disebut ‘wa’, kadhang disebut ‘kakang’, kadhang disebut ‘kaki’.

.

.

Foto wayang Semar koleksi Bp Bima Karangjati, Yogykarta.
Wayang buatan Sanggar Anugrahing Wayang Seno, Karanganyar.

.

.

Panakawan – tokoh wayang purwa Jawa.

Standard

Panakawan Tokoh Wayang Purwa Jawa.

.

Di dalam pewayangan purwa Jawa, dikenal panakawan yang mengiringi raja atau ksatria ‘berkelakuan baik’ dan ada panakawan yang – di dalam cerita diposisikan – mengiringi raja atau ksatria ‘berkelakuan buruk’. Di simpingan pakeliran ( jajaran wayang kulit yang ditancapkan di sisi kanan dan kiri kelir / layar ) tokoh ‘berkelakuan baik’ diletakkan di sisi kanan layar, sedangan  tokoh ‘berkelakuan buruk’ diletakkan di sisi kiri layar. Baiklah, mari kita sebut saja ada panakawan ‘kanan’ dan panakawan ‘kiri’.

Panakawan tidak dikenal di pewayangan India. Panakawan merupakan tokoh ciptaan kaum Jawa yang kemudian dicangkokkan ke pewayangan. Tidak diketahui pasti siapa empu atau pujangga yang menciptakan panakawan, jadi bisa disebut panakawan adalah kreasi kaum Jawa berjamaah. Hasil resultan kolektif karya kreatif kaum Jawa.

Ada tidak hanya satu versi cerita mengenai kelahiran panakawan, semuanya berbau ‘mistik’ Jawa. Gubahan cerita kehadiran panakawan berada di semua era lakon wayang, mulai dari era Arjunasasrabahu sampai era Parikesit, bahkan masih muncul di Wayang Madya – cerita wayang sesudah lakon era Parikesit. Namun tidak jelas diketahui kapan dan bagaimana kematian panakawan. Rasanya, pesan para leluhur Jawa pada gubahan cerita kehadiran panakawan sepanjang era wayang adalah pamomong sebagai pengawal ‘kehidupan baik’ harus hadir di sepanjang masa selama masih ada kehidupan manusia.

( Saya jadi ingat juga tokoh wayang kera putih Anoman. Di pewayangan Jawa, Anoman yang sakti tidak hanya hidup di era Ramayana, dia masih ada di gubahan lakon era Mahabarata. Bagi kaum Jawa, alasannya adalah Anoman bertugas mengawal ‘kehidupan baik’ . Catatan lain : Anoman adalah salah satu kadang Bayu – tokoh yang diberkahi dan dilindungi oleh Bathara Bayu – dewa Angin. )

Panakawan sebetulnya adalah pribadi  yang unggul dalam ilmu, kesaktian, ber wawasan luas, mumpuni dalam masalah kehidupan serta bijaksana. Sampai suatu ketika mereka membuat keputusan untuk keluar dari hal-hal yang bersifat keduniawian , harta kekayaan dan pangkat. Mereka memilih hidup sederhana sebagai orang kebanyakan, namun tetap dengan kehidupan sehat senang sejahtera mulia.

Sosok panakawan kental diselubungi falsafah hidup orang Jawa. Banyak perwujudan anggauta badannya yang tidak sewajarnya orang , namun dibalik itu kaum Jawa menitipkan pesan falsafah dan nasehat moral. Kira-kira pesan moralnya :  Carilah makna-makna di balik segala sesuatu. Janganlah hanya terpesona keindahan wujud wadag. Manusia selayaknya belajarmembaca bahasa lambang. Dibalik wujud luar yang kelihatan kurang atau tidak sempurna, tersimpan beragam rahasia kehidupan.

.

.


Panakawan ‘kanan’.

Panakawan, di dalam pewayangan Jawa,  berperan tidak hanya sekedar abdi /pelayan, melainkan pamomong ( dalam bahasa Indonesia, mungkin padanan yang mendekati adalah pengasuh total ). Mereka – meskipun memiliki wawasan, ilmu dan kesaktian yang tinggi – tidak mau menyejajarkan diri dengan yang dimong /diasuh, yang di dalam pewyangan disebut bendara. Mereka menempatkan diri sebagai ‘orang kebanyakan’ / orang biasa yang karena tugasnya senantiasa tut wuri dalam perjalanan hidup, perkembangan jiwa raga bendara nya. Memberi pendapat, nasehat, wawasan ketika ditanya maupun – dengan meminta ijin dahulu – ketika tidak ditanya. Juga menghibur di kala duka. Selalu mengingatkan ketika bendara khilaf atau melakukan kesalahan.

Dan kadang kala terjun langsung berkiprah membela bendara nya di kala hal itu memang sangat diperlukan ; hal ini jarang terjadi karena pamomong selalu mengutamakan mendorong, membesarkan hati serta menyemangati agar sang bendara mandiri dan mampu mengatasi masalah mereka sendiri.

( Pada suatu saat, ketika terjadi penyimpangan ‘kehidupan baik’ yang keterlaluan, jika terpaksa, panakawan menunjukkan kesaktiannya mengalahkan segala sesuatu penyebab penyimpangan sehingga kehidupan kembali ke jalan yang baik. Tidak peduli yang melakukan penyimpangan dewa sekalipun. )

Panakawan ‘kanan’ ada empat orang. Yaitu Semar, sang ayah , dan tiga orang anak nya Gareng, Petruk dan Bagong. Ada versi yang menceritakan bahwa Bagong sebenarnya adalah bayangan Semar yang kemudian diwujudkan jadi bangsa manusia sebagai anak nomor tiga.

Ada semacam panakawan wanita yaitu Cangik, sang ibu dan anaknya Limbuk ; yang diceritakan mengiringi para ratu atau putri.

Anda bisa membaca uraian tentang penampilan Semar, Gareng, Petruk di file digital PDF konservasi tulisan “ Pacandra Warnane Semar,Gareng, Petruk “ tulisan R. Tanojo - yang merupakan bagian akhir dari buku “ Sadjarah Pandawa lan Korawa” –  terbit di era tahun 1960 an yang bisa Anda unduh melalui info URL di posting blog Wayang Pustaka . 

Selanjutnya di posting berikut ini masing-masing tokoh panakawan akan ditampilkan fotonya, diawali dengan panyandra panakawan versi almarhum Ki Hadi Sugito ditulis Bp Al Nurbandana, Jakarta di Facebook group Ki Hadi Sugito Dalangku. Bp Al adalah ‘juru kunci’ group tersebut, beliau seorang penikmat dan pemerhati gaya pakeliran wayang purwa Jawa gagrag Yogyakarta khususnya gaya Ki Hadi Sugito.

( panyandra (bahasa Jawa) kira-kira berarti menguraikan penampilan suatu tokoh )

 

Panakawan ‘kiri’.

Sebenarnya  panakawan ‘kiri’ ini tidak terimbas berbuat ‘kiri’ / tidak baik. Ndilalah saja dalam cerita wayang dia selalu diposisikan – kalau boleh malah dikatakan : ditugaskan oleh kaum Jawa – mengiringi raja atau ksatria ‘berkelakuan buruk’ atau yang ada di simpingan kiri, untuk mengusahakan perubahan kelakuan bendara nya.

Ada dua tokoh yaitu Togog dan Bilung (sering disebut juga Sarawita).

Meskipun keberadaannya di atmosfer ‘kiri’ , mereka tetap mempunyai misi – dan tidak henti hentinya – menyuarakan ‘kehidupan baik’ dengan memberi nasehat kepada bendara nya yang ‘berkehidupan buruk’. Namun di dalam cerita nasehat mereka selalu tidak digubris. Ya namanya cerita wayang – yang memang disajikan dengan muatan tuntunan – seperti biasa menceritakan yang buruk dan yang baik. Yang buruk keras kepala sampai kena batunya.

( Catatan : Penulis novel Pitoyo Amrih di lamannya Dunia Wayang memberi nama Panakawan Sabrang. Hal ini karena biasanya tokoh-tokoh ‘berkelakuan buruk’ biasa disebut ‘ Ratu Sabrang ‘ , raja dari suatu negara ‘ di seberang sana’ /  ‘di luar sana ‘.  Jadi panakawannya juga disebut Panakawan Sabrang ).

.

Tangerang Selatan, 08 Agustus 2012
Ditulis oleh Budi Adi Soewirjo

.

.

Catatan tambahan :

1.

Panakawan juga dikenal di pewayangan Cirebon, Sunda, Bali. Mohon maaf saya tidak mempunyai pengetahuan menceritakan panakawan versi non Jawa. Namun salah satu yang pernah saya dengar dan lihat fotonya – dan ini sangat berkesan bagi saya – tokoh Semar gagrag Cirebon ditampilkan dengan rantai di bibir terhubung ke tangan. Pesan moralnya : satunya kata dan perbuatan. Kalau bibir sudah mengucapkan sesuatu, maka tangan – yang terantai dengan bibir – harus melaksanakan sesuai dengan apa yang dikatakan bibir. Pesan yang sangat mengena. Atau berlaku sebaliknya – hal yang cocok dengan peristiwa jaman sekarang – jika tangan mengambil sesuatu yang bukan haknya / korupsi, maka bibir ya harus mengucap mengakuinya. Nah , kearifan lokal para leluhur sudah mengajarkan. Bagaimana kita belajar membaca dan mengetahui makna bahasa lambang ?.

2.

Masih ingat kata bahasa Arab : Iqra.
Membacalah.
Marilah kita terus belajar bersama dengan membaca.

Ada satu buku terbitan tahun 1970 an karya SriMulyono – penggiat wayang di jaman nya – berjudul “ Apa dan Siapa Semar “ . Buku ini sudah tidak terbit lagi dan sudah sulit ditemukan di luaran. Blog Wayang Pustaka berusaha meng konservasi nya menjadikan nya format digital PDF agar memungkinkan masyarakat membacanya. Sekarang dalam proses.

3.

Penulis novel wayang Pitoyo Amrih di samping menulis novel wayang juga menyelami cerita pewayangn Jawa untuk mencarimakna-makna falsafah Jawa yang terkandung dalam pewayangan Jawa. Namun sebagai manusia generasi sekarang yang juga mempelajari teori perilaku kehidupan manusia dipandang dari segi ilmu manajemen barat, Pitoyo Amrih mencoba menggali makna pewayangan Jawa dipandang dari segi ilmu kini.Pendapatnya dituangkan dalam buku nya berjudul :

The 7 Habits of Highly Effective People Versi Semar & Pandawa,”

4.

Kalau buku karya Sri Mulyono tentang Semar sudah sulit ditemukan, pada tahun 2010 penulis Wawan Sujiyanto menulis tentang Semar dan falsafahnya dalam buku berjudul “ Semar Ngejowantah Mbabar Jati Diri “, terbitan penerbit Aryuning. Keterangan buku dan penerbit silakan klik di judul.

5.

Tahun 2011. Dalam kaitan peran panakawan, yang kadang kala perlu menunjukkan pengaruhnya, menunjukkan ‘gigi’ nya. R. Toto Sugiharto menulis novel berjudul ‘ Semar Mesem ‘ diterbitkan oleh Diva Press, Yogyakarta.

6.

Penulis novel wayang Adrian Kresna , juga berminat menceritakan panakawan, dan karya nya yang telah terbit menyangkut panakawan :

6.a.

‘ Semar dan Togog. Yin dan Yang dalam Wayang. ‘

6.b.

‘ Dunia Semar ‘

6.c.

‘ Panakawan Menggugat “

Yang 6.a. kira-kira terbit tahun lalu, sedangkan yang 6.b dan 6.c baru terbit bulan Juli 2012 lalu.

Blog Wayang Pustaka akan menyajikan informasi tentang buku-buku tersebut.

6.

Buku-buku butir 3 sampai dengan butir 6 saat ini masih beredar di pasaran, Anda yang berminat bisa membeli di toko buku atau menghubungi langsung penerbit :
Alamat dan data Penerbit :

DIVA Press
Sampangan Gg. Perkutut no. 325-B
Jl. Wonosari, Baturetno
Banguntapan, Yogyakarta
Tel : (0274) 4353776 , 7418727
Fax : (0274) 4353776

Email 1 : redaksi_divapress@yahoo.com
Email 2 : ircisod68@yahoo.com
Website : http://www.divapress-online.com/

Anggada – tokoh wayang.

Standard

Anggada. (anak Subali – Dewi Tara)

.

tokoh wayang Ramayana,

.

Bahan pengayaan :

.

Pengantar Admin blog :

Sebetulnya urutan posting blog ini belum sampai menceritakan tokoh wayang era Ramayana. Tetapi kebetulan Admin mengikuti – di Facebook – tampilan foto dari P Stanley Hendrawidjaja seorang pecinta, pemerhati dan kolektor wayang kulit purwa maupun wayang ukur. Beliau mukim di Bogor.

Kali ini p Stanley Hendrawidjaja menampilkan gebingan wayang kulit purwa Anggada, wayang tokoh kera. Beliau menfokuskan rangkaian foto untuk memperlihatkan detail bagaimana para penggambar dan penatah wayang ‘ menggubah ‘ epek-epek ‘ tangan dan kaki wayang kera.

Beliau mengatakan – dalam pembicaraan setahun yang lalu – bahwa banyak penggambar dan penatah wayang kurang memperhatikan detail gubahan  ‘epek-epek‘ (baik wayang tokoh manusia, denawa, wanara), sehingga hasil akhirnya adalah ‘epek-epek‘ yang posisinya kurang masuk akal dan kurang indah.

( gebingan = wayang kulit yang sudah ditatah tetapi belum disungging/ diwarnai.
epek-epek = telapak tangan atau kaki
denawa = raksasa
wanara = kera )

(1)

Anggada.

.

.

(2)

Detail epek-epek tangan belakang.

Detail epek-epek tangan belakang (epek-epek menghadap ke pengamat (kita)).

.

.

(3)

Detail epek-epek kaki belakang.

Komentar Bima S Raharja, pecinta & pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Pola “untu walang” atau rumpilan pada ngangrangan gelang untuk gaya Surakarta masih dipertahankan, bila di Jogja hanya kalangan penatah2 tertentu, dan milik dhalang saja yang masih menggunakan…[Untuk masalah] kaki saya cocok dengan pola “menatural”kan dengan kera asli.

.

.

(4)

Detail epek-epek tangan depan dan kaki depan (1).

.

.

(5)

Detail epek epek tangan depan kaki depan (2)

Komentar Bima S Raharja, pecinta dan pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Nyempurit-nya tangan memang “ngethek” tenan. Kalo tidak faham “uda mamah” (asal mula, dan cerita…mungkin bahasa sekarang pake istilah ikonografi-nya) driji denawa dibuat driji kera…lha sebenarnya kurang pas rasanya.

.

.

Ulupi – tokoh wayang.

Standard

Ulupi.  (isteri Arjuna)

.

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Ulupi, Kanwa Resi, Mahabarata, pertapaan Yasarata, Kala Pracona, Gilingwesi, bidadari Gagarmayang, Bambang Irawan, Kala Srenggi, negera Goabarong.

.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan Agus Andoko.

.

.

Ulupi adalah perempuan rupawan anak Resi Kanwa dari Pertapaan Yasarata. Suatu hari ia menemukan Arjuna di pelataran padepokan dalam keadaan pingsan. Arjuna yang kalah bertarung melawan Kala Pracona dari Gilingwesi yang tengah memporak porandakan Kahyangan karena lamarannya atas bidadari Gagarmayang ditolak, melemparkan lawannya yang pingsan hingga jatuh di pertapaan Yasarata.

 

Ulupi merawat Arjuna dengan penuh kasih sayang sampai pulih kembali. Cinta bersemi diantara keduanya hingga mereka menikah dan Ulupi hamil. Seperti adat sebelumnya, Arjuna meninggalkan isterinya dalam keadaan hamil. Pada saatnya Ulupi melahirkan bayi lelaki, diberi nama Bambang Irawan yang sepenuhnya mewarisi ketampanan sang ayah. Bambang Irawan pun dibesarkan Ulupi dan kakeknya di pertapaan Yasarata.

 

Menjelang dewasa Bambang Irawan mencari ayahnya sekaligus hendak bergabung dengan Pandawa yang telah siap dalam perang besar Bharatayuda. Tragisnya, di tengah perjalanan ia disergap Kala Srenggi, raksasa dari negeri Goabarong, yang dendam kepada Arjuna sebab ayahnya dibunuh Arjuna. Kala Srenggi yang terbang di angkasa mengira bahwa lelaki muda yang tengah berjalan di bawah adalah Arjuna sebab profilnya begitu mirip orang yang dicarinya itu. Bambang Irawan tewas, sebelum bertemu Arjuna yang mengukir jiwa raganya.