Tag Archives: Nakula

Pandawa Muda & Pandawa Tua – tokoh wayang.

Standard

Pandawa Muda.

.

Ketika muda para Pandawa sering disebut dengan nama kecil nya masing-masing :

Yudhistira  =  Puntadewa.
Arjuna  =  Palguna.
Bima  =  Bratasena.
Nakula  =  Pinten.
Sadewa  =  Tangsen. 

.

.

Pandawa Tua.

.

Bp Suwadi Krijo Taruno, Jakarta Utara ; seorang pecinta wayang, kolektor wayang kulit purwa dari hasil ‘ corekan ‘ nya sendiri, penyusun buku ensiklopedi berisi foto tokoh wayang koleksi beliau ( berjudul ” Wayang Kulit Purwa gagrag Surakarta ” ) di akun Facebook nya mempunyai satu foto adegan Pandawa Tua ( di album Facebook Suwadi KT ) :

.

.

Di pakeliran wayang purwa Jawa, adegan paseban Ngamarta selalu seperti terlihat di atas.

Puntadewa (Yudhistira) berdiri di sebelah kanan ( mungkin untuk mem praktis kan adegan maka adegan paseban keraton, rajanya tidak ditampilkan duduk di singgasana ; demikian juga ketika adegan yang sama di pentas wayang orang ). Di sebelah kanan dan kiri Yudhistira duduk ( di pakeliran di perlihatkan wayang Nakula dan Sadewa ditancapkan di gedebog bawah ; jadi posisinya tampak lebih rendah dari Yudhistira ; kesannya Nakula dan Sadewa duduk ).

Bima dan Arjuna berdiri di sebelah kiri menghadap Yudhistira. Di pakeliran wayang purwa Jawa ( maupun di India ) Bima memang terkenal tidak bisa duduk, meskipun dia tidak bermaksud untuk tidak hormat kepada tokoh yang dihadapi.

Kunti. – [ khazanah tokoh wayang ]

Standard

Kunti.

Narasi tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Gambar dan bahan pengayaan disipkan oleh Budi Adi Soewirjo.

Kunti, sering juga disebut Dewi Prita, perempuan cantik ini adalah putri Basukunti, Raja Mandura. Saat remaja, Kunti berbuat naif dengan mencoba kesaktiannya mendatangkan dewa. Maka datanglah Bathara Surya, dewa penguasa matahari. Tak kuasa melihat pesona Kunti maka terjadilah yang tidak semestinya terjadi, hingga gadis muda itu hamil. Basukunti menjaga rapat aib keluarganya, dan membuang bayi lelaki yang dilahirkan Kunti ke sungai.

[ versi lain menceritakan bahwa Kunti menyimpan sendiri rahasia ini dan menghanyutkan bayi laki-laki nya dalam keranjang ke sungai ]. Kelak bayi yang ditemukan dan dirawat kusir Adirata itu menjadi panglima perang Astina.

Meski telah melahirkan anak, Kunti tetap penuh pesona dan akhirnya berjodoh dengan Pandu, raja negeri Astina. Sayang sekali, rumah tangga yang dibina dengan Pandu tak berumur lama. Pandu mati, meninggalkan lima anak lelaki yang masih kecil-kecil, tiga dari rahimnya sendiri dan dua dari Madrim, isteri kedua Pandu.

Single parent Kunti membesarkan dan mendidik Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa menjadi para ksatria utama. Kunti adalah sosok perempuan kuat, mandiri dan tabah menghadapi berbagai cobaan hidup. Sebagai mantan ratu dengan status janda, Kunti harus membesarkan kelima anaknya dengan susah payah, terutama karena sering dizolimi para Korawa.

Di masa tuanya, Kunti harus melihat anak-anaknya berhadapan sebagai musuh bebuyutan, Korawa, dalam perang besar Baratyudha, terutama ketika Arjuna sebagai panglima Pandawa berhadapan dengan Karna sebagai panglima Korawa

.

Gambar wayang kulit purwa Jawa : Kunti.

.

.

Bahan pengayaan :

.

[ maaf, halamn dalam persiapan ]

Pandu. – [ khazanah tokoh wayang ]

Standard

Pandu.

Narasi tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Gambar dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo

.

Nama lengkapnya Pandu Dewanata, anak Dewi Ambalika dengan Abiyasa. Saat berhubungan badan dengan Abiyasa yang berkulit hitam legam, Ambalika pucat pasi karena ketakutan hingga Pandu terlahir bermuka pucat, meski demikian Pandu sangat sakti.

Pandu memiliki dua isteri, Kunti dari Mandura dan Madrim dari Madras.

Suatu hari saat berburu di hutan, Pandu salah memanah dua ekor rusa yang sedang bercinta, yang ternyata adalah jelmaan seorang resi dan isterinya. Pandu pun dikutuk akan tewas saat bercinta dengan isterinya. Ketika itu ia sudah memiliki tiga anak dari Kunti, yaitu Yudhistira, Bima dan Arjuna dan si kembar Nakula-Sadewa dari Madrim. Kelima anak lelaki itu kelak bernama Pandawa, lebih lengkapnya Pandawa Lima. Tak tahan bertarak, suatu hari Pandu menghampiri Madrim dan ketika asyik bercinta ia tewas.

Kunti dan Madrim berebut untuk bela pati, menceburkan diri ke api pembakaran mayat Pandu sebagai bukti kesetiaan seorang isteri. Setelah berunding, Madrim lah akhirnya yang bela pati, dengan pertimbangan Kunti lebih cocok membesarkan kelima anak yatim itu. Sepeninggal Madrim, Kunti membesarkan kelima anaknya tanpa membeda-bedakan anak kandung dan anak tiri. Bahkan kasih sayang Kunti lebih besar kepada si kembar yang yatim piatu itu.

.

.

.

Bahan pengayaan :

[ dalam persiapan ]