Monthly Archives: July 2012

Anggada – tokoh wayang.

Standard

Anggada. (anak Subali – Dewi Tara)

.

tokoh wayang Ramayana,

.

Bahan pengayaan :

.

Pengantar Admin blog :

Sebetulnya urutan posting blog ini belum sampai menceritakan tokoh wayang era Ramayana. Tetapi kebetulan Admin mengikuti – di Facebook – tampilan foto dari P Stanley Hendrawidjaja seorang pecinta, pemerhati dan kolektor wayang kulit purwa maupun wayang ukur. Beliau mukim di Bogor.

Kali ini p Stanley Hendrawidjaja menampilkan gebingan wayang kulit purwa Anggada, wayang tokoh kera. Beliau menfokuskan rangkaian foto untuk memperlihatkan detail bagaimana para penggambar dan penatah wayang ‘ menggubah ‘ epek-epek ‘ tangan dan kaki wayang kera.

Beliau mengatakan – dalam pembicaraan setahun yang lalu – bahwa banyak penggambar dan penatah wayang kurang memperhatikan detail gubahan  ‘epek-epek‘ (baik wayang tokoh manusia, denawa, wanara), sehingga hasil akhirnya adalah ‘epek-epek‘ yang posisinya kurang masuk akal dan kurang indah.

( gebingan = wayang kulit yang sudah ditatah tetapi belum disungging/ diwarnai.
epek-epek = telapak tangan atau kaki
denawa = raksasa
wanara = kera )

(1)

Anggada.

.

.

(2)

Detail epek-epek tangan belakang.

Detail epek-epek tangan belakang (epek-epek menghadap ke pengamat (kita)).

.

.

(3)

Detail epek-epek kaki belakang.

Komentar Bima S Raharja, pecinta & pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Pola “untu walang” atau rumpilan pada ngangrangan gelang untuk gaya Surakarta masih dipertahankan, bila di Jogja hanya kalangan penatah2 tertentu, dan milik dhalang saja yang masih menggunakan…[Untuk masalah] kaki saya cocok dengan pola “menatural”kan dengan kera asli.

.

.

(4)

Detail epek-epek tangan depan dan kaki depan (1).

.

.

(5)

Detail epek epek tangan depan kaki depan (2)

Komentar Bima S Raharja, pecinta dan pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Nyempurit-nya tangan memang “ngethek” tenan. Kalo tidak faham “uda mamah” (asal mula, dan cerita…mungkin bahasa sekarang pake istilah ikonografi-nya) driji denawa dibuat driji kera…lha sebenarnya kurang pas rasanya.

.

.

Advertisements

Ulupi – tokoh wayang.

Standard

Ulupi.  (isteri Arjuna)

.

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Ulupi, Kanwa Resi, Mahabarata, pertapaan Yasarata, Kala Pracona, Gilingwesi, bidadari Gagarmayang, Bambang Irawan, Kala Srenggi, negera Goabarong.

.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan Agus Andoko.

.

.

Ulupi adalah perempuan rupawan anak Resi Kanwa dari Pertapaan Yasarata. Suatu hari ia menemukan Arjuna di pelataran padepokan dalam keadaan pingsan. Arjuna yang kalah bertarung melawan Kala Pracona dari Gilingwesi yang tengah memporak porandakan Kahyangan karena lamarannya atas bidadari Gagarmayang ditolak, melemparkan lawannya yang pingsan hingga jatuh di pertapaan Yasarata.

 

Ulupi merawat Arjuna dengan penuh kasih sayang sampai pulih kembali. Cinta bersemi diantara keduanya hingga mereka menikah dan Ulupi hamil. Seperti adat sebelumnya, Arjuna meninggalkan isterinya dalam keadaan hamil. Pada saatnya Ulupi melahirkan bayi lelaki, diberi nama Bambang Irawan yang sepenuhnya mewarisi ketampanan sang ayah. Bambang Irawan pun dibesarkan Ulupi dan kakeknya di pertapaan Yasarata.

 

Menjelang dewasa Bambang Irawan mencari ayahnya sekaligus hendak bergabung dengan Pandawa yang telah siap dalam perang besar Bharatayuda. Tragisnya, di tengah perjalanan ia disergap Kala Srenggi, raksasa dari negeri Goabarong, yang dendam kepada Arjuna sebab ayahnya dibunuh Arjuna. Kala Srenggi yang terbang di angkasa mengira bahwa lelaki muda yang tengah berjalan di bawah adalah Arjuna sebab profilnya begitu mirip orang yang dicarinya itu. Bambang Irawan tewas, sebelum bertemu Arjuna yang mengukir jiwa raganya.

Bambang Priyambada – tokoh wayang purwa.

Standard

Bambang Priyambada. (anak Arjuna – Endang Prihastuti)

.

[ halaman sedang dipersiapkan ]

.

Dari album P Bima Karangjati, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman di akun Facebook nya :

.

Bambang Priyambada

 

.

Bambang Priyambada

Bambang Priyambada, anak Arjuna – Endang Priyastuti. Wayang kulit gagrag Surakarta koleksi P Bima Karangjati, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Karya Hernot Sarwani, Laweyan, Surakarta.

Endang Priyastuti – tokoh wayang.

Standard

Endang Priyastuti. (isteri Arjuna)

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Endang Priyastuti, Bambang Priyambada, Jamus Kalimasada, Mustokoweni, Niwatakawaca, negara Imantaka, Gatotkaca, Yudhistira, candi Saptaarga.

‘ 

Narasi dan gambar tokoh disiapkan Agus Andoko.

.

.

 Salah satu isteri Arjuna ini jarang sekali disebut namanya, bahkan dari mana ia berasal dan anak siapa juga tidak diketahui. Diperkirakan Endang Priyastuti adalah anak seorang Begawan yang tinggal di sebuah padepokan. Dalam pernikahannya dengan Arjuna, Endang Priyastuti melahirkan seoang anak lelaki tampan bernama Bambang Priyambodo.

Tokoh inilah yang sangat terkenal dalam lakon Jamus Kalimasada. Dalam lakon ini tersebutlah seorang perempuan cantik bernama Mustokoweni, anak Raja Niwatakawaca dari negeri Imantaka. Perempuan muda ini begitu dendam kepada Pandawa, khususnya Arjuna karena ayahnya terbunuh oleh Arjuna. Ia berniat membalas dendam kepada Pandawa dengan cara mencuri Jimat Kalimasada, benda bertuah yang merupakan salah satu kekuatan Pandawa.

Untuk memuluskan aksinya ia mengubah wujud menjadi Gatotkaca, menghadap Drupadi di negeri Amarta, pura-pura disuruh Yudhistira, yang saat itu bersama Pandawa lainnya sedang membangun sebuah candi di Saptaarga, untuk mengambilkan Jimat Kalimasada. Berhasil mencuri jimat, Mustikoweni melarikan diri ke negerinya. Tetapi ia dikejar Srikandi hingga terjadilah perkelahian seru antara dua perempuan prajurit itu.

Kalah sakti, Srikandi pun menyerah. Ketika itu datanglah Bambang Priyambodo hendak mencari ayahnya. Srikandi sanggup mempertemukan Bambang Priyambodo dengan Arjuna asal bisa mendapatkan kembali Jimat Kalimasada dari Mustokoweni.

Maka terjadilah pertempuran antara Bambang Priyambodo dan Mustokoweni. Saat Bambang Priyambodo melepaskan anak panah, bukannya membunuh Mustokoweni, anak panah justru menelanjangi perempuan itu. Saat itu juga Bambang Priyambodo jatuh cinta pada Mustokoweni, demikian pula sebaliknya. Selanjutnya keduanya pun menjadi suami isteri.

Srikandi – tokoh wayang.

Standard

Srikandi.  ( isteri Arjuna )

.

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Mahabarata, Srikandi, Drupada, Gandawati, negara Pancala, Arjuna, ksatrian Madukara, Bhisma, Amba, Aswatama, Sembadra, Larasati.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Foto wayang kulit dari album mas Edi Sujo, Kediri.

.

 

 .

Ada perbedaan besar antara Srikandi versi pedalangan Jawa dengan wiracarita Mahabharata asli India. Di Mahabharata India, Srikandi adalah seorang transgender yang menikah dengan seorang wanita. Pada malam pertama ketika tahu siapa sebenarnya suaminya, isterinya menghinanya dan Srikandi pun lari dengan penuh rasa malu. Saat putus asa dan hendak bunuh diri, ia ketemu seorang lelaki baik hati yang sepakat untuk bertukar kelamin. Srikandi pun pulang ke rumah isterinya sebagai lelaki tulen dan mereka memiliki anak.

Tapi dalam versi pedalangan Jawa, Srikandi betul-betul seorang wanita, puteri Raja Drupada dan Permaisuri Gandawati dari negeri Pancala. Meski dikatakan anak Drupada-Gandawati, tapi Srikandi lahir dari api pemujaan Drupada. Waktu tercipta dari api pemujaan itu bayi Srikandi sudah menggendong tabung anak panah dan memegang busur.

Dalam perjalanan waktu Srikandi yang cantik dan kenes itu menjadi prajurit handal Pancala. Saat memperdalam ilmu memanah pada Arjuna, Srikandi jatuh cinta dan keduanya pun menjadi suami isteri. Srikandi tinggal di Ksatrian Madukara bersama isteri Arjuna yang lain, Sembadra dan Larasati. Di sana ia menjadi penjaga keamanan ksatrian.

Dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi menjadi Senopati Pandawa, dan berhasil membunuh panglima perang Korawa, Bhisma. Sebetulnya Srikandi bukan lawan setara Bhisma yang sakti, tetapi Bhisma sendiri membiarkan tubuhnya tertembus anak panah Srikandi begitu dilihatnya bayangan Amba, perempuan yang pernah dibunuhnya pada waktu muda, berkelebat di sisi Srikandi. Usai perang besar Bharatayuda, Srikandi yang tidak memiliki anak itu tewas dibunuh Aswatama yang menyelinap diam-diam ke perkemahan Pandawa.

.

Bahan pengayaan :

(1)

Gambar wayang Srikandi di atas menunjukkan Srikandi menggendong tabung panah , wayang tersebut dipakai ketika Srikandi akan maju perang. Biasanya disebut Srikandi Prajurit.

Sehari-hari Srikandi tidak membawa panah. Pada adegan bukan perang dipakai wayang Srikandi sebagai putri. Mas Edi Sujo dari Kediri di akun FB nya pernah menampilkan wayang kulit Srikandi yang diberi catatan : Srikandi Sepuh.

Perhatikan bahwa semua wayang Srikandi memperlihatkan kepala yang agak mendongak , melambangkan sifat tokoh ini tegas, pemberani.

.

.

Pregiwa dan Pregiwati (kembar) – tokoh wayang.

Standard

Pregiwa dan Pregiwati.  ( Anak Arjuna – Manohara ).

.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan oleh Agus Andoko, Surakarta di FB pada 20 Juli 2012.
Gambar lain dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo, Tangerang Selatan.
Foto ” Gatotkaca Gandrung ” milik Harmiel M. Soekardjo, Jakarta.

.

Pregiwa dan Pregiwati mewarisi kerupawanan kedua orang tuanya, ManoharaArjuna sehingga mereka menjadi buah bibir di pertapaan Tirtakawana tempat mereka lahir dan dibesarkan oleh ibu dan kakeknya. Janaloka, salah satu cantrik atau pelayan di pertapaan Tirtakawana pun diam-diam mencintai dua gadis remaja itu. Tapi tentu saja dia tak berani mengutarakan perasaannya mengingat statusnya yang hanya sebagai cantrik di pertapaan itu.

Suatu hari ketika Pregiwa-Pregiwati pamit pada ibu dan kakeknya untuk mencari ayahnya di Ksatrian Madukara, Janaloka menawarkan diri mengawal perjalanan kedua gadis muda itu. Padahal dalam benak Janaloka sudah tersusun rencana busuk untuk melampiaskan perasaannya selama ini pada Pregiwa – Pregiwati.

Wiku Manikara, kakek Pregiwa-Pregiwati yang sudah mencium gelagat mencurigakan Janaloka tak mengijinkannya mengawal perjalanan cucu-cucnya. Tapi Janaloka bersikeras dan bahkan bersumpah, kalau sampai dia punya niat jahat pada Pregiwa – Pregiwati biar dia mati dikeroyok orang. Begitulah, akhirnya ketiganya berangkat menuju Madukara melewati hutan lebat.

Melangkah tak jauh dari pertapaan Janaloka mulai menggoda dan merayu kedua gadis itu untuk melayani kemauannya. Pada saat itu pula sebenarnya kemalangan mulai menimpa Janaloka. Pohon besar tempatnya berteduh ketika hujan atau panas selalu tumbang. Sumber air yang hendak diminumnya selalu kering, buah-buahan hutan yang hendak dipetiknya untuk dimakan tiba-tiba layu dan membusuk. Demikianlah Janaloka mengalami penderitaan hebat.

Puncaknya terjadi saat mereka bertemu rombongan Korawa, yang begitu melihat Pregiwa – Pregiwati berniat memboyong keduanya ke Astina. Hendak menunjukkan pengabdiannya pada tuannya, Janaloka pun menghadapi Korawa dan akhirnya mati dikeroyok Korawa. Pregiwa – Pregiwati sendiri lari dan diselamatkan Gatotkaca yang mengantarkannya dengan selamat ke Madukara, bertemu Arjuna. Gatotkaca jatuh cinta pada Pregiwa, demikian pula sebaliknya sehingga keduanya pun menikah. Sementara Pregiwati berjodoh dengan Pancawala, anak YudhistiraDrupadi.

.

Bahan pengayaan :

.

(1)

Di awal tahun 1960 an di Surabaya pernah terbit satu buku berjudul ” Potjapan Ringgit Tiyang ‘ , berisi semacam skenario / naskah dialog para tokoh dalam lakon wayang orang. Salah satu lakon yang ada dalam buku tersebut adalah lakon ” Pregiwa – Pregiwati “. Bahkan di dalam bagian lakon tadi ada ilustrasi gambar Cantrik Janaloka berhadapan dengan Pregiwati di dalam hutan.

Anda bisa membaca dan mengunduh gratis file digital format PDF konservasi buku ” Potjapan Ringgit Tiyang “.
Buku ini berisi skenario/ naskah dialog untuk lima lakon wayang :

Kartawijoga.
Kresna Kembang.
Pregiwa Pregiwati.
Petruk Dadi Ratu.
Kulandarageni.

Buku ini disarankan untuk Ibu Bapak Guru yang ingin mengajak siswa siswi nya mementaskan wayang orang atau drama wayang dengan kostum kekinian  ( jika kemampuan tari kurang mencukupi – misalnya , dan kostum klasik wayang tidak ada )  ;  sangat membantu siswa siswi untuk meng-apresiasi wayang sebagai kesenian lokal Jawa. Mangga dipun cobi.

.

.

Penggambar nya adalah S. Topo , seorang penggambar buku-buku seni budaya lokal pada saat itu. Selain S. Topo ada seorang lagi penggambar yaitu Ratmoyo. Sayang saat ini buku-buku seperti itu -yang berisi gambar-gambar wayang atau seni budaya lokal – sudah tidak terbit lagi. Dan buku yang dulu pernah terbit sangat jarang ada di simpan orang / perpustakaan.

Salah satu blog Paguyuban Pecinta Wayang – Wayang Pustaka – sedang menyiapkan konservasi file digital format PDF satu buku cerita wayang bergambar – bukan kopmik – yang pernah terbit pada pertengahan tahun 1970 an berjudul ” Bale Sigala-gala ” karya penggambar Ratmoyo dan narasi oleh Abas. ( Bp Sam Soemadipradja, Bandung yang saat ini menyimpan buku asli nya). Buku ini menarik karena gambar-gambar nya banyak dengan ukuran masing-masing satu halaman penuh.

.

(2)

 Wayang Orang Sriwedari, Surakarta dan Wayang Orang Ngesti Pandowo, Semarang maupun Wayang Orang Tjipto Kawedar yang pentas keliling sering mementaskan lakon Pregiwa – Pregiwati. Kisah asmara Pregiwa dengan Gatotkaca rupanya menjadi sangat populer sehingga para penata tari Jawa menggubah satu fragmen tari berjudul ” Gatotkaca Gandrung ” yang menggambarkan kasmarannya Gatotkaca kepada Pregiwa. Di tengah fragmen digambarkan Gatotkaca me ” nembang” kan / menyenandungkan tembang asmara kepada Pregiwa :

Balung pakel dhuh mbok gunung , teja bengkok nginum warih ………

.

Foto peraga tari sebelum menarikan fragmen tari ” Gatotkaca Gandrung ” di album foto FB Bp Harmiel M Soekardjo :

.

.

.

.

(3)

File digital konservasi format MP3 dari file audio atau video berkaitan dengan tokoh Pregiwa – Pregiwati bisa diperoleh di laman Paguyuban Pecinta Wayang http://wayangprabu.com.

Alamat URL spesifik akan kami tampilkan berikutnya.

.