Daily Archives: 22 July, 2012

Srikandi – tokoh wayang.

Standard

Srikandi.  ( isteri Arjuna )

.

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Mahabarata, Srikandi, Drupada, Gandawati, negara Pancala, Arjuna, ksatrian Madukara, Bhisma, Amba, Aswatama, Sembadra, Larasati.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Foto wayang kulit dari album mas Edi Sujo, Kediri.

.

 

 .

Ada perbedaan besar antara Srikandi versi pedalangan Jawa dengan wiracarita Mahabharata asli India. Di Mahabharata India, Srikandi adalah seorang transgender yang menikah dengan seorang wanita. Pada malam pertama ketika tahu siapa sebenarnya suaminya, isterinya menghinanya dan Srikandi pun lari dengan penuh rasa malu. Saat putus asa dan hendak bunuh diri, ia ketemu seorang lelaki baik hati yang sepakat untuk bertukar kelamin. Srikandi pun pulang ke rumah isterinya sebagai lelaki tulen dan mereka memiliki anak.

Tapi dalam versi pedalangan Jawa, Srikandi betul-betul seorang wanita, puteri Raja Drupada dan Permaisuri Gandawati dari negeri Pancala. Meski dikatakan anak Drupada-Gandawati, tapi Srikandi lahir dari api pemujaan Drupada. Waktu tercipta dari api pemujaan itu bayi Srikandi sudah menggendong tabung anak panah dan memegang busur.

Dalam perjalanan waktu Srikandi yang cantik dan kenes itu menjadi prajurit handal Pancala. Saat memperdalam ilmu memanah pada Arjuna, Srikandi jatuh cinta dan keduanya pun menjadi suami isteri. Srikandi tinggal di Ksatrian Madukara bersama isteri Arjuna yang lain, Sembadra dan Larasati. Di sana ia menjadi penjaga keamanan ksatrian.

Dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi menjadi Senopati Pandawa, dan berhasil membunuh panglima perang Korawa, Bhisma. Sebetulnya Srikandi bukan lawan setara Bhisma yang sakti, tetapi Bhisma sendiri membiarkan tubuhnya tertembus anak panah Srikandi begitu dilihatnya bayangan Amba, perempuan yang pernah dibunuhnya pada waktu muda, berkelebat di sisi Srikandi. Usai perang besar Bharatayuda, Srikandi yang tidak memiliki anak itu tewas dibunuh Aswatama yang menyelinap diam-diam ke perkemahan Pandawa.

.

Bahan pengayaan :

(1)

Gambar wayang Srikandi di atas menunjukkan Srikandi menggendong tabung panah , wayang tersebut dipakai ketika Srikandi akan maju perang. Biasanya disebut Srikandi Prajurit.

Sehari-hari Srikandi tidak membawa panah. Pada adegan bukan perang dipakai wayang Srikandi sebagai putri. Mas Edi Sujo dari Kediri di akun FB nya pernah menampilkan wayang kulit Srikandi yang diberi catatan : Srikandi Sepuh.

Perhatikan bahwa semua wayang Srikandi memperlihatkan kepala yang agak mendongak , melambangkan sifat tokoh ini tegas, pemberani.

.

.

Pregiwa dan Pregiwati (kembar) – tokoh wayang.

Standard

Pregiwa dan Pregiwati.  ( Anak Arjuna – Manohara ).

.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan oleh Agus Andoko, Surakarta di FB pada 20 Juli 2012.
Gambar lain dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo, Tangerang Selatan.
Foto ” Gatotkaca Gandrung ” milik Harmiel M. Soekardjo, Jakarta.

.

Pregiwa dan Pregiwati mewarisi kerupawanan kedua orang tuanya, ManoharaArjuna sehingga mereka menjadi buah bibir di pertapaan Tirtakawana tempat mereka lahir dan dibesarkan oleh ibu dan kakeknya. Janaloka, salah satu cantrik atau pelayan di pertapaan Tirtakawana pun diam-diam mencintai dua gadis remaja itu. Tapi tentu saja dia tak berani mengutarakan perasaannya mengingat statusnya yang hanya sebagai cantrik di pertapaan itu.

Suatu hari ketika Pregiwa-Pregiwati pamit pada ibu dan kakeknya untuk mencari ayahnya di Ksatrian Madukara, Janaloka menawarkan diri mengawal perjalanan kedua gadis muda itu. Padahal dalam benak Janaloka sudah tersusun rencana busuk untuk melampiaskan perasaannya selama ini pada Pregiwa – Pregiwati.

Wiku Manikara, kakek Pregiwa-Pregiwati yang sudah mencium gelagat mencurigakan Janaloka tak mengijinkannya mengawal perjalanan cucu-cucnya. Tapi Janaloka bersikeras dan bahkan bersumpah, kalau sampai dia punya niat jahat pada Pregiwa – Pregiwati biar dia mati dikeroyok orang. Begitulah, akhirnya ketiganya berangkat menuju Madukara melewati hutan lebat.

Melangkah tak jauh dari pertapaan Janaloka mulai menggoda dan merayu kedua gadis itu untuk melayani kemauannya. Pada saat itu pula sebenarnya kemalangan mulai menimpa Janaloka. Pohon besar tempatnya berteduh ketika hujan atau panas selalu tumbang. Sumber air yang hendak diminumnya selalu kering, buah-buahan hutan yang hendak dipetiknya untuk dimakan tiba-tiba layu dan membusuk. Demikianlah Janaloka mengalami penderitaan hebat.

Puncaknya terjadi saat mereka bertemu rombongan Korawa, yang begitu melihat Pregiwa – Pregiwati berniat memboyong keduanya ke Astina. Hendak menunjukkan pengabdiannya pada tuannya, Janaloka pun menghadapi Korawa dan akhirnya mati dikeroyok Korawa. Pregiwa – Pregiwati sendiri lari dan diselamatkan Gatotkaca yang mengantarkannya dengan selamat ke Madukara, bertemu Arjuna. Gatotkaca jatuh cinta pada Pregiwa, demikian pula sebaliknya sehingga keduanya pun menikah. Sementara Pregiwati berjodoh dengan Pancawala, anak YudhistiraDrupadi.

.

Bahan pengayaan :

.

(1)

Di awal tahun 1960 an di Surabaya pernah terbit satu buku berjudul ” Potjapan Ringgit Tiyang ‘ , berisi semacam skenario / naskah dialog para tokoh dalam lakon wayang orang. Salah satu lakon yang ada dalam buku tersebut adalah lakon ” Pregiwa – Pregiwati “. Bahkan di dalam bagian lakon tadi ada ilustrasi gambar Cantrik Janaloka berhadapan dengan Pregiwati di dalam hutan.

Anda bisa membaca dan mengunduh gratis file digital format PDF konservasi buku ” Potjapan Ringgit Tiyang “.
Buku ini berisi skenario/ naskah dialog untuk lima lakon wayang :

Kartawijoga.
Kresna Kembang.
Pregiwa Pregiwati.
Petruk Dadi Ratu.
Kulandarageni.

Buku ini disarankan untuk Ibu Bapak Guru yang ingin mengajak siswa siswi nya mementaskan wayang orang atau drama wayang dengan kostum kekinian  ( jika kemampuan tari kurang mencukupi – misalnya , dan kostum klasik wayang tidak ada )  ;  sangat membantu siswa siswi untuk meng-apresiasi wayang sebagai kesenian lokal Jawa. Mangga dipun cobi.

.

.

Penggambar nya adalah S. Topo , seorang penggambar buku-buku seni budaya lokal pada saat itu. Selain S. Topo ada seorang lagi penggambar yaitu Ratmoyo. Sayang saat ini buku-buku seperti itu -yang berisi gambar-gambar wayang atau seni budaya lokal – sudah tidak terbit lagi. Dan buku yang dulu pernah terbit sangat jarang ada di simpan orang / perpustakaan.

Salah satu blog Paguyuban Pecinta Wayang – Wayang Pustaka – sedang menyiapkan konservasi file digital format PDF satu buku cerita wayang bergambar – bukan kopmik – yang pernah terbit pada pertengahan tahun 1970 an berjudul ” Bale Sigala-gala ” karya penggambar Ratmoyo dan narasi oleh Abas. ( Bp Sam Soemadipradja, Bandung yang saat ini menyimpan buku asli nya). Buku ini menarik karena gambar-gambar nya banyak dengan ukuran masing-masing satu halaman penuh.

.

(2)

 Wayang Orang Sriwedari, Surakarta dan Wayang Orang Ngesti Pandowo, Semarang maupun Wayang Orang Tjipto Kawedar yang pentas keliling sering mementaskan lakon Pregiwa – Pregiwati. Kisah asmara Pregiwa dengan Gatotkaca rupanya menjadi sangat populer sehingga para penata tari Jawa menggubah satu fragmen tari berjudul ” Gatotkaca Gandrung ” yang menggambarkan kasmarannya Gatotkaca kepada Pregiwa. Di tengah fragmen digambarkan Gatotkaca me ” nembang” kan / menyenandungkan tembang asmara kepada Pregiwa :

Balung pakel dhuh mbok gunung , teja bengkok nginum warih ………

.

Foto peraga tari sebelum menarikan fragmen tari ” Gatotkaca Gandrung ” di album foto FB Bp Harmiel M Soekardjo :

.

.

.

.

(3)

File digital konservasi format MP3 dari file audio atau video berkaitan dengan tokoh Pregiwa – Pregiwati bisa diperoleh di laman Paguyuban Pecinta Wayang http://wayangprabu.com.

Alamat URL spesifik akan kami tampilkan berikutnya.

.

Manohara. – [ khazanah tokoh wayang ]

Standard

Manohara. ( Isteri Arjuna )

Narasi tokoh disiapkan oleh  Agus Andoko, di FB 19 Juli 2012.
Gambar dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo

Wanita ini jarang disebut dalam pedalangan Jawa, padahal ia isteri Arjuna, tokoh penting dalam Kitab Mahabarata. Manohara adalah anak Wiku Manikara dari pertapaan Tirtakawana. Pertemuan Arjuna dengan Manohara terjadi ketika Arjuna yang tengah mengembara di tengah hutan mampir di pertapaan Tirtawikana. Arjuna terpesona kecantikan alami Manohara, yang digambarkan seperti sekuntum anggrek hutan yang tengah mekar sempurna. Manohara pun terpana dengan ketampanan Arjuna sehingga keduanya pun menikah.

Seperti biasa pula, Arjuna meninggalkan isterinya ketika hamil untuk melanjutkan petualangan cintanya. Manohara adalah type wanita Jawa yang nerimo, tidak mempermasalahkan suaminya pergi meninggalkan benih yang mulai tumbuh di rahimnya. Pada saatnya Manohara melahirkan bayi perempuan kembar, Pregiwa dan Pregiwati, yang kemudian diasuh ibu dan kakeknya di tengah pertapaan.

Menginjak remaja, Pregiwa dan Pregiwati pamit pada ibu dan kakeknya untuk mencari ayahnya di Ksatrian Madukara. Dua remaja puteri ini harus melewati banyak rintangan di perjalanan, termasuk hadangan Korawa yang hendak membawa keduanya ke Astina untuk dikawinkan dengan Lesmana Mandrakumara, anak Raja Duryudana. Untung pada saat yang tepat datang Gatotkaca, putera Bima-Arimbi, menolong dua perempuan malang itu. Gatotkaca jatuh cinta pada Pregiwa, demikian pula sebaliknya sehingga keduanya pun menikah. Sementara Pregiwati berjodoh dengan Pancawala, anak Yudhistira-Drupadi.

.

Gambar wayang kulit purwa Jawa : Manohara.

.

.

Bahan pengayaan :

.

[ dalam persiapan ]

Dresanala – tokoh wayang purwa.

Standard

Narasi dan gambar tokoh wayang disiapkan Agus Andoko

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Mahabarata, Dresanala, Bathara Brama, Niwatakawaca, Negara Gilingwesi, Dewasrani, Bathara Guru , kawah Candradimuka, Negara Parangrukmi, Bathara Narada, Wisanggeni, Kresna.

 

Dresanala. (Isteri Arjuna)

 

Anak Bathara Brama ini adalah salah satu dari empat bidadari yang diperistri Arjuna sebagai hadiah telah membunuh Niwatakawaca, Raja Negeri Gilingwesi yang memporakporandakan kahyangan.

 

Saat hamil, Dresanala dipaksa Bathara Brama berpisah dengan Arjuna yang telah kembali ke dunia, untuk dinikahkan dengan Dewasrani. Brama lebih memilih bermenantukan Dewasrani, anak Batara Guru, rajanya para dewa. Dresanala yang masih mencintai Arjuna menolak kehendak ayahnya dengan alasan dalam keadaan hamil. Brama yang temperamen dan sangat berambisi besanan dengan Batara Guru itu menghajar anak perempuannya dengan harapan jabang bayi yang ada dalam kandungannya keluar.

 

Betul juga, jabang bayi yang belum saatnya lahir itu pun keluar dan oleh Brama dibuang ke Kawah Candradimuka, ibunya lalu diserahkan kepada Dewasrani di Parangrukmi. Ajaibnya, bukannya mati terbakar, jabang bayi laki-laki itu justru tumbuh sangat cepat. Keluar dari kawah, jabang bayi telah menjadi laki-laki dewasa. Batara Narada yang sejak awal mengawasi kejadian itu memberi nama anak Dresanala tersebut Bambang Wisanggeni, dan menceritakan mengapa ia dibuang ke kawah.

 

Mendengar itu Wisanggeni mengamuk membabi buta di kahyangan dan tak satupun dewa bisa mengalahkan kesaktiannya. Wisanggeni berhenti mengamuk setelah Brama meminta maaf dan mengembalikan Dresanala ke Kahyangan dari Parangrukmi.

 

Tak satupun insan di arcapada yang bisa menandingi kesaktian Wisanggeni sehingga Batara Kresna yang mengetahui skenario perang Bharatayuda (dari Kitab Jitapsara) menyingkirkannya dari ajang perang tersebut. Sebab perang harus berjalan fair, kehadiran Wisanggeni akan membuat perang hanya berjalan sesaat dan kemenangan ada di pihak Pandawa.

.

Dresanala, isteri Arjuna.

 

.

 

Abimanyu. [ khazanah tokoh wayang ]

Standard

Abimanyu.

[ Maaf, halaman-halaman ini dalam persiapan. Silakan kunjungi blog ini kembali untuk membaca beragam kisah tokoh wayang purwa Jawa dan melihat gambar nya. ]

.

.

.

Gambar wayang Abimanyu di atas adalah karya D. Tjarita salah seorang penggambar wayang legendaris di tahun-tahun 1900 an sampai tahun 1930 an. Gambar ini dipindai dengan resolusi tinggi dari buku berjudul ” Bratajoeda ” karangan R Ng Kartapradja yang terbit tahun 1937.

.

Kunjungi berkala blog ini untuk membaca tulisan tentang tokoh wayang dan gambar wayang karya penggambar-penggambar wayang legendaris.

.