Daily Archives: 28 July, 2012

Anggada – tokoh wayang.

Standard

Anggada. (anak Subali – Dewi Tara)

.

tokoh wayang Ramayana,

.

Bahan pengayaan :

.

Pengantar Admin blog :

Sebetulnya urutan posting blog ini belum sampai menceritakan tokoh wayang era Ramayana. Tetapi kebetulan Admin mengikuti – di Facebook – tampilan foto dari P Stanley Hendrawidjaja seorang pecinta, pemerhati dan kolektor wayang kulit purwa maupun wayang ukur. Beliau mukim di Bogor.

Kali ini p Stanley Hendrawidjaja menampilkan gebingan wayang kulit purwa Anggada, wayang tokoh kera. Beliau menfokuskan rangkaian foto untuk memperlihatkan detail bagaimana para penggambar dan penatah wayang ‘ menggubah ‘ epek-epek ‘ tangan dan kaki wayang kera.

Beliau mengatakan – dalam pembicaraan setahun yang lalu – bahwa banyak penggambar dan penatah wayang kurang memperhatikan detail gubahan  ‘epek-epek‘ (baik wayang tokoh manusia, denawa, wanara), sehingga hasil akhirnya adalah ‘epek-epek‘ yang posisinya kurang masuk akal dan kurang indah.

( gebingan = wayang kulit yang sudah ditatah tetapi belum disungging/ diwarnai.
epek-epek = telapak tangan atau kaki
denawa = raksasa
wanara = kera )

(1)

Anggada.

.

.

(2)

Detail epek-epek tangan belakang.

Detail epek-epek tangan belakang (epek-epek menghadap ke pengamat (kita)).

.

.

(3)

Detail epek-epek kaki belakang.

Komentar Bima S Raharja, pecinta & pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Pola “untu walang” atau rumpilan pada ngangrangan gelang untuk gaya Surakarta masih dipertahankan, bila di Jogja hanya kalangan penatah2 tertentu, dan milik dhalang saja yang masih menggunakan…[Untuk masalah] kaki saya cocok dengan pola “menatural”kan dengan kera asli.

.

.

(4)

Detail epek-epek tangan depan dan kaki depan (1).

.

.

(5)

Detail epek epek tangan depan kaki depan (2)

Komentar Bima S Raharja, pecinta dan pemerhati wayang dari Yogyakarta :

Nyempurit-nya tangan memang “ngethek” tenan. Kalo tidak faham “uda mamah” (asal mula, dan cerita…mungkin bahasa sekarang pake istilah ikonografi-nya) driji denawa dibuat driji kera…lha sebenarnya kurang pas rasanya.

.

.

Ulupi – tokoh wayang.

Standard

Ulupi.  (isteri Arjuna)

.

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Ulupi, Kanwa Resi, Mahabarata, pertapaan Yasarata, Kala Pracona, Gilingwesi, bidadari Gagarmayang, Bambang Irawan, Kala Srenggi, negera Goabarong.

.

Narasi dan gambar tokoh disiapkan Agus Andoko.

.

.

Ulupi adalah perempuan rupawan anak Resi Kanwa dari Pertapaan Yasarata. Suatu hari ia menemukan Arjuna di pelataran padepokan dalam keadaan pingsan. Arjuna yang kalah bertarung melawan Kala Pracona dari Gilingwesi yang tengah memporak porandakan Kahyangan karena lamarannya atas bidadari Gagarmayang ditolak, melemparkan lawannya yang pingsan hingga jatuh di pertapaan Yasarata.

 

Ulupi merawat Arjuna dengan penuh kasih sayang sampai pulih kembali. Cinta bersemi diantara keduanya hingga mereka menikah dan Ulupi hamil. Seperti adat sebelumnya, Arjuna meninggalkan isterinya dalam keadaan hamil. Pada saatnya Ulupi melahirkan bayi lelaki, diberi nama Bambang Irawan yang sepenuhnya mewarisi ketampanan sang ayah. Bambang Irawan pun dibesarkan Ulupi dan kakeknya di pertapaan Yasarata.

 

Menjelang dewasa Bambang Irawan mencari ayahnya sekaligus hendak bergabung dengan Pandawa yang telah siap dalam perang besar Bharatayuda. Tragisnya, di tengah perjalanan ia disergap Kala Srenggi, raksasa dari negeri Goabarong, yang dendam kepada Arjuna sebab ayahnya dibunuh Arjuna. Kala Srenggi yang terbang di angkasa mengira bahwa lelaki muda yang tengah berjalan di bawah adalah Arjuna sebab profilnya begitu mirip orang yang dicarinya itu. Bambang Irawan tewas, sebelum bertemu Arjuna yang mengukir jiwa raganya.

Bambang Priyambada – tokoh wayang purwa.

Standard

Bambang Priyambada. (anak Arjuna – Endang Prihastuti)

.

[ halaman sedang dipersiapkan ]

.

Dari album P Bima Karangjati, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman di akun Facebook nya :

.

Bambang Priyambada

 

.

Bambang Priyambada

Bambang Priyambada, anak Arjuna – Endang Priyastuti. Wayang kulit gagrag Surakarta koleksi P Bima Karangjati, Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman. Karya Hernot Sarwani, Laweyan, Surakarta.

Endang Priyastuti – tokoh wayang.

Standard

Endang Priyastuti. (isteri Arjuna)

Tokoh wayang keluarga Arjuna, Endang Priyastuti, Bambang Priyambada, Jamus Kalimasada, Mustokoweni, Niwatakawaca, negara Imantaka, Gatotkaca, Yudhistira, candi Saptaarga.

‘ 

Narasi dan gambar tokoh disiapkan Agus Andoko.

.

.

 Salah satu isteri Arjuna ini jarang sekali disebut namanya, bahkan dari mana ia berasal dan anak siapa juga tidak diketahui. Diperkirakan Endang Priyastuti adalah anak seorang Begawan yang tinggal di sebuah padepokan. Dalam pernikahannya dengan Arjuna, Endang Priyastuti melahirkan seoang anak lelaki tampan bernama Bambang Priyambodo.

Tokoh inilah yang sangat terkenal dalam lakon Jamus Kalimasada. Dalam lakon ini tersebutlah seorang perempuan cantik bernama Mustokoweni, anak Raja Niwatakawaca dari negeri Imantaka. Perempuan muda ini begitu dendam kepada Pandawa, khususnya Arjuna karena ayahnya terbunuh oleh Arjuna. Ia berniat membalas dendam kepada Pandawa dengan cara mencuri Jimat Kalimasada, benda bertuah yang merupakan salah satu kekuatan Pandawa.

Untuk memuluskan aksinya ia mengubah wujud menjadi Gatotkaca, menghadap Drupadi di negeri Amarta, pura-pura disuruh Yudhistira, yang saat itu bersama Pandawa lainnya sedang membangun sebuah candi di Saptaarga, untuk mengambilkan Jimat Kalimasada. Berhasil mencuri jimat, Mustikoweni melarikan diri ke negerinya. Tetapi ia dikejar Srikandi hingga terjadilah perkelahian seru antara dua perempuan prajurit itu.

Kalah sakti, Srikandi pun menyerah. Ketika itu datanglah Bambang Priyambodo hendak mencari ayahnya. Srikandi sanggup mempertemukan Bambang Priyambodo dengan Arjuna asal bisa mendapatkan kembali Jimat Kalimasada dari Mustokoweni.

Maka terjadilah pertempuran antara Bambang Priyambodo dan Mustokoweni. Saat Bambang Priyambodo melepaskan anak panah, bukannya membunuh Mustokoweni, anak panah justru menelanjangi perempuan itu. Saat itu juga Bambang Priyambodo jatuh cinta pada Mustokoweni, demikian pula sebaliknya. Selanjutnya keduanya pun menjadi suami isteri.