Category Archives: a Pandawa

Pancawala – tokoh wayang.

Standard

Pancawala.

.

Bahan pengayaan :

(1)

Bp Suwadi Krijo Taruno ; seorang pecinta, kolektor wayang hasil ‘ corekan ‘ nya sendiri, penyusun buku ensiklopedi berisi foto tokoh wayang koleksi beliau ( berjudul ” Wayang Kulit Purwa gagrag Surakarta ” ) di akun Facebook nya pernah menampilkan tokoh Pancawala ( di album FB Suwadi KT) :

.

 

.

Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga – tokoh wayang purwa Jawa.

Standard

Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga. (Arjuna menjadi pertapa)

[ halaman dalam persiapan ]

.

Narasi tokoh wayang disiapkan Agus Andoko.
Gambar lain dan foto dikumpulkan dan disusun Budi Adi Soewirjo.

Tokoh wayang purwa, gunung Indrakila, tujuh bidadari, Bathari Wilutama, Niwatakawaca, Bathari Supraba.

Begawan Ciptaning.

Begawan Ciptaning adalah adalah nama yang dipakai Arjuna saat bertapa di Gunung Indrakila. Bertapa adalah laku prihatin mematikan setiap keinginan sebagai sarana mencapai tujuan.

Pada saat bertapa, Begawan Ciptaning mendapat cobaan berat sebab pada titik paling lemahlah ia digoda. Tujuh bidadari Kahyangan berparas jelita datang menggoda imannya. Dengan bahasa tubuh yang amat menawan ketujuh bidadari itu menawarkan kenikmatan duniawi. Tapi Begawan Ciptaning bergeming. Bahkan seorang bidadari yang terlalu bernafsu menggoda, Bathari Wilutama, mendapat malu saat busananya tanggal tertiup angin kencang.

Berkat ketekunannya bertapa Begawan Ciptaning akhirnya mendapat pusaka ampuh dari dewa untuk membinasakan Raja Niwatakawaca yang sedang mengganggu Kahyangan. Hadiah berikutnya ia mendapatkan Bathari Supraba, bidadari tercantik di Kahyangan.

Makanya … Fokuslah pada tujuan dan abaikan setiap godaan.

.

.

Bahan pengayaan :

.

(1)

 

.

(2)

.

.

(3)

.

Begawan Ciptaning, versi Purwokusuman. Foto : Bima Karangjati.

Arjuna. – [ khazanah tokoh wayang ]

Standard

Arjuna

 

Narasi tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Gambar dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo.

.

Konon seluruh pesona laki-laki sepenuhnya ada pada sosok anak ketiga Pandu - Kunti ini sehingga Arjuna mendapat julukan ” lelananging jagad ” alias lelakinya jagad. Meski bertubuh ramping berwajah lembut tapi Arjuna adalah petarung hebat di medan perang, tak pernah terkalahkan sehingga mendapat sebutan Parantapa atau penakluk musuh.

 

Tak hanya penakluk pria di medan perang, Arjuna juga penakluk wanita di ranah asmara. Ia memiliki isteri lebih dari sepuluh, mulai dari kaum endang atau anak pertapa, puteri raja hingga bidadari. Meski penakluk wanita, sebagai petapa sejati Arjuna dikenal sangat kuat menahan godaan wanita. Saat bertapa di Gunung Indrakila dengan sebutan Begawan Ciptaning, Arjuna tak tergoyahkan oleh rayuan 7 bidadari swargaloka yang diutus para dewa untuk menggodanya.

 

Meski demikian ia pernah kena batunya juga saat merayu Anggraini, isteri Palgunadi untuk menjadi isterinya. Perempuan setia ini tak mau meladeni Arjuna, bahkan rela bunuh diri tidak mau disentuh Arjuna.

 

Tetapi Arjuna juga pernah dikutuk bidadari Urwasi menjadi banci selama setahun karena menolak cintanya. Kutukan ini dimanfaatkan Arjuna saat harus menjalani penyamaran selama setahun di istana Wirata usai kalah berjudi dengan Korawa. Di Wirata Arjuna menjadi guru tari banci bernama Wrehatnala.

 

Dari isteri-isterinya Arjuna mendapat banyak anak yang membantunya dalam perang besar Bharatayuda.

.

.

 

.

.

Bahan pengayaan :

.

 

Bima – tokoh wayang.

Standard

Bima. ( anak kedua Pandu – Kunti )

.

Tokoh wayang Pandawa, Mahabarata, Bima, Bratasena, Werkudara, Pandu, Kunti, Gajah Sena, Begawan Drona, Tirta Amertasari, Laut Selatan, Dewa Ruci, Ngagini, Dewa Anantaboga, Antareja, Arimbi, Pringgadani, Gatotkaca, Urang Ayu, Bathara Baruna, Antasena.

 

Narasi tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Gambar, foto dan bahan pengayaan dikumpulkan & disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo.

 

Sering juga disebut Bratasena atau Werkudara, Bima menjadi ikon tentang keteguhan hati manusia dalam menjalani apa yang diyakininya benar. Gambar Bima banyak dipasang di rumah-rumah orang Jawa sebagai simbol keteguhan hati.

Anak kedua Pandu – Kunti ini memiliki tubuh sentosa, tinggi besar gagah perkasa. Saat lahir bayi Bima terbungkus selaput yang tak seorangpun bisa membukanya. Hanya Gajah Sena, putera Bathara Guru yang berwujud gajah yang bisa membukanya dengan paksa. Selaput pembungkus bayi Sena berubah menjadi bayi juga, bernama Jayadrata yang kelak setelah dewasa bergabung dengan Korawa.

Keteguhan hati Bima ditunjukkan saat dia disuruh gurunya, Begawan Drona, untuk mencari Tirta Amertasari ( Air Kehidupan ) di Laut Selatan yang ombak besarnya bisa membunuh siapapun. Karena keteguhan hatinya, Bima menjalankan perintah itu, berjuang menghadapi berbagai rintangan, termasuk naga besar penjaga Laut Selatan. Terjadi perkelahian seru antara keduanya hingga hewan mengerikan itu terbunuh. Berada antara hidup dan mati karena lelah setelah perkelahian hebat itu Bima justru bertemu dengan Dewa Ruci, sejatinya Bima sendiri, dan Bima pun mendapatkan pencerahan.

Bima menikah dengan tiga wanita, Nagagini putera Dewa Anantaboga yang menurun kan Antareja, Arimbi raksasa perempuan dari Pringgandani yang melahirkan Gatotkaca dan Urang Ayu puteri Bathara Baruna yang menurunkan Antasena.

Bima juga dikenal tidak membeda-bedakan orang. Ia digambarkan selalu “ngoko” ketika berbicara kepada siapapun , menunjukkan ia tidak membeda-bedakan orang berdasarkan pangkat dan kedudukan.

.

.

Bahan pengayaan :

.

(1)

Gambar grafis di bawah ini adalah konservasi gambar wayang di buku ” Bratajoeda ” tulisan R Ng Kartapradja terbitan Bale Poestaka tahun 1937. Di dalam buku itu terdapat banyak gambar wayang karya Kasidi, D Tjarito ( Darmo Tjarita ), RM Soelardi. Konservasi berupa pemindaian ke dalam file digital JPG dengan resolusi tinggi.

Mengapa dipindai dengan resolusi tingi ? Pertama, tentunya pindaiannya jelas. Kedua, jika ditampilkan di monitor gambarnya bisa besar. Ketiga, jika dicetak – dengan ukuran sampai A2 ( setengah lembar koran ) – hasilnya tidak pecah. Jadi bisa menjadi sarana studi bagi peminat seni kriya wayang.

.

.

(2)

Berikutnya akan disajikan beberapa ‘boneka’ wayang dari tokoh yang sama. Tokoh Bima atau nama lainnya Werkudara, dengan berbagai WANDA atau penampilannya berbeda.

Dalam pewayangan ; bentuk penampilan total – perpanduan posisi tubuh, posisi kepala/wajah, ekspresi wajah, pewarnaan wajah dan tubuh – biasa disebut WANDA WAYANG.

( Di bagian lain blog ini kami akan menyajikan tulisan tentang wanda dan tautan ke ebook-ebook – yang bisa diunduh gratis dari internet – yang membahas wanda. )

 .

Foto wayang Wrekudara yang akan ditampilkan adalah foto wayang koleksi bp Bima Karangjati dari Karangjati, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Wayang-wayang ini adalah dari gagrak Surakarta.

.

(2 a)

Wrekudara wanda Lintang cemani buatan Sanggar Wayang Wawan Sondakan.
Hasil eksperimen Mas Hernot Sarwani, dua blak wonda Lintang, satu diglembeng, satu awak disungging cemani… Hasilnya: awak gembleng maupun cemani, sama-sama grennngg-nya….Jarak plemahan-bahu depan: 48 cm, jarak plemahan ujung atas: 69 cm.

cemani = hitam
awak gembleng = badan diberi warna emas

.

.

(2 b)

Wrekudara wanda Gurnat buatan mas Satina Manteb.
Werkudara wanda Gurnat yang dijujud (80cm) karya mas Satina Manteb.

dijujud = ditinggikan. Wayang nya lebih tinggi.

.

.

(2 c)

Wrekudara wanda Bambang buatan Sanggar Wayang Wawan Sondakan.
Bima wonda Bambang gagrak Sala dengan tafsir Yogjan, yakni paha belum memakai porong Nagaraja.

.

.

(2 d)

Wrekudara wanda Sanggem karya Satina Manteb.
Menurut keterangan Mas Rudy WP, Werkudara Sanggem ini sebenarnya Bima wanda Mimis. Wujud yang semula kreasi Ki Ganda Dharman ini kelihatan “siap melakukan apa saja di medan pertempuran”, oleh karenanya disebut “sanggem”, arti bebasnya “memenuhi kewajiban”… Foto by Hastangka

.

(3)

Bima di wayang orang., dari album foto di FB Wuku Wayang :
Tidak ada penjelasan wayang orang mana.

.

.

(4)

Laman e-wayang atau laman e-wayang di Facebook.

Sebuah laman yang menampilkan banyak gambar wayang yang dihasilkan dari teknologi digital / komputer.

.

.

.

Kampuh Poleng Bang Bintulu karya laman e-wayang.

Kampuh Poleng Bang Bintulu yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

.

Yudhistira – tokoh wayang.

Standard

Yudhistira

Narasi tokoh disiapkan oleh Agus Andoko.
Gambar dan bahan pengayaan disiapkan oleh Budi Adi Soewirjo.

.

 

Versi pedalangan Jawa menyebut Yudhistira atau Puntadewa adalah titisan Bathara Darma, dewa kebaikan sehingga anak pertama PanduKunti ini sepanjang hidup selalu berbuat baik dan jujur pada semua orang. Tetapi justru karena terlalu baik dan berusaha tidak mengecewakan orang itulah Yudhistira yang beristri Drupadi, anak Raja Drupada dari Pancali itu cenderung naïf. Ketika ditantang berjudi oleh Duryudana, pimpinan Korawa, Yudhistira meladeni dengan taruhan yang gila-gilaan. Semula ia hanya bertaruh uang, harta, benda dan negara. Sebagaimana biasa orang berjudi, adrenalin Yudhistira terpacu ketika dia terus menerus kalah bertaruh. Akhirnya dipertaruhkanlah isterinya, Drupadi, dalam perjudian itu, plus harus menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan jika kalah.

Ketika kalah judi, Drupadi dipermalukan di depan banyak orang. Perempuan malang ini ditelanjangi oleh Dursasana, salah satu dedengkot Korawa, di depan hidung suami dan adik-adiknya yang hanya bisa menutup mata. [ lihat Drupadi ]

Waktu perang besar Bharatayuda, Yudhistira yang sepanjang umur berlaku jujur terpaksa berbohong oleh bujukan Kresna. Waktu itu panglima perang Korawa, Begawan Durna, tengah galau karena mendengar anak lelakinya, Aswatama, gugur di medan laga, padahal sebenarnya Aswatama disembunyikan ibunya yang seorang bidadari. Ketika semua orang yang ditanya menjawab bahwa Aswatama gugur, hati Durna kian galau dan akhirnya ia bertanya pada Yudhistira yang diyakininya tak pernah bohong. Ketika itu Yudhistira pun menjawab bahwa Aswatama gugur maka tak berdayalah Durna dan saat itu juga ia terbunuh oleh Drestajumena, panglima Pandawa. Itulah untuk pertama dan terakhir Yudhistira tidak jujur, maka kereta perangnya yang semula tidak menjejak tanah pun, lalu turun ke tanah, sebagai pertanda tidak konsistennya Yudhistira sebagai orang jujur.

.

.

.

Bahan pengayaan :

.

[ Maaf, halaman dalam persiapan. Silakan berkunjungkembali untuk membaca bermacam tulisan tentang tokoh wayang dan melihat gambar nya. ]

.

 

.

 

Pandawa Muda & Pandawa Tua – tokoh wayang.

Standard

Pandawa Muda.

.

Ketika muda para Pandawa sering disebut dengan nama kecil nya masing-masing :

Yudhistira  =  Puntadewa.
Arjuna  =  Palguna.
Bima  =  Bratasena.
Nakula  =  Pinten.
Sadewa  =  Tangsen. 

.

.

Pandawa Tua.

.

Bp Suwadi Krijo Taruno, Jakarta Utara ; seorang pecinta wayang, kolektor wayang kulit purwa dari hasil ‘ corekan ‘ nya sendiri, penyusun buku ensiklopedi berisi foto tokoh wayang koleksi beliau ( berjudul ” Wayang Kulit Purwa gagrag Surakarta ” ) di akun Facebook nya mempunyai satu foto adegan Pandawa Tua ( di album Facebook Suwadi KT ) :

.

.

Di pakeliran wayang purwa Jawa, adegan paseban Ngamarta selalu seperti terlihat di atas.

Puntadewa (Yudhistira) berdiri di sebelah kanan ( mungkin untuk mem praktis kan adegan maka adegan paseban keraton, rajanya tidak ditampilkan duduk di singgasana ; demikian juga ketika adegan yang sama di pentas wayang orang ). Di sebelah kanan dan kiri Yudhistira duduk ( di pakeliran di perlihatkan wayang Nakula dan Sadewa ditancapkan di gedebog bawah ; jadi posisinya tampak lebih rendah dari Yudhistira ; kesannya Nakula dan Sadewa duduk ).

Bima dan Arjuna berdiri di sebelah kiri menghadap Yudhistira. Di pakeliran wayang purwa Jawa ( maupun di India ) Bima memang terkenal tidak bisa duduk, meskipun dia tidak bermaksud untuk tidak hormat kepada tokoh yang dihadapi.

Arjuna. [ khazanah tokoh wayang purwa Jawa ]

Standard

[ halaman percobaan ]

 

Arjuna

Penulis : Agus Andoko, Surakarta

Konon seluruh pesona laki-laki sepenuhnya ada pada sosok anak ketiga Pandu-Kunti ini sehingga Arjuna mendapat julukan “lelananging jagad” alias lelakinya jagad. Meski bertubuh ramping berwajah lembut tapi Arjuna adalah petarung hebat di medan perang, tak pernah terkalahkan sehingga mendapat sebutan Parantapa atau penakluk musuh.

Tak hanya penakluk pria di medan perang, Arjuna juga penakluk wanita di ranah asmara. Ia memiliki isteri lebih dari sepuluh, mulai dari kaum endang atau anak pertapa, puteri raja hingga bidadari. Meski penakluk wanita, sebagai petapa sejati Arjuna dikenal sangat kuat menahan godaan wanita. Saat bertapa di Gunung Indrakila dengan sebutan Begawan Ciptaning, Arjuna tak tergoyahkan oleh rayuan 7 bidadari swargaloka yang diutus para dewa untuk menggodanya.

Meski demikian ia pernah kena batunya juga saat merayu Anggraini, isteri Palgunadi untuk menjadi isterinya. Perempuan setia ini tak mau meladeni Arjuna, bahkan rela bunuh diri tidak mau disentuh Arjuna.

Tetapi Arjuna juga pernah dikutuk bidadari Urwasi menjadi banci selama setahun karena menolak cintanya. Kutukan ini dimanfaatkan Arjuna saat harus menjalani penyamaran selama setahun di istana Wirata usai kalah berjudi dengan Korawa. Di Wirata Arjuna menjadi guru tari banci bernama Wrehatnala.

Dari isteri-isterinya Arjuna mendapat banyak anak yang membantunya dalam perang besar Bharatayuda.

.

.

Materi pengayaan :

1.

Gambar wayang kulit purwa Jawa – Arjuna – dengan resolusi tinggi bisa Anda unduh di URL : …..

2.

Lakon Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga bisa Anda unduh ebook nya di URL : …..

3.

Rekaman audio lakon Begawan Mintaraga bisa Anda unduh gratis di URL : …..